Image

Nusantaride Ride & Get Warmth, Guci 22 Juni 2013

26 Jun

Berawal dari sebuah ajakan gathering atau informal meeting yang rutin diadakan oleh sahabat Nusantaride di beberapa wilayah, saya dan beberapa teman merencanakan untuk join karena ingin bertemu muka dengan sahabat2 Nusataride dari Jateng, DIY dan Jatim serta saya juga punya janji untuk bertemu dengan Om Jul setelah nggak sempat bertemu di Ciwidey beberapa waktu lalu. Pertama saya rencanakan perjalanan ini dengan Pram, lalu sambil ngobrol2 di bengkel keracunan juga dah si Uchon dari situ Pram berinisiatif bikin grup di BB Group bersama beberapa rekan di Jateng dan DIY untuk mengkoordinasikan perjalanan ini. Ngobrol ngalor ngidul akirnya ditentukan keberangkatan pada hari Jumat malam pulang kantor via Pantura tapi masih tarik2an apakah langsung ato muter lewat alternatif via subang-cikamurang-kadipaten. Tikum 1 telah ditentukan di SPBU Serpong, TIkum 2 di SPBU Kapin di Kalimalang untuk yang seputaran Jakarta dan Bekasi.

Tikum di SPBU Kapin Kalimalang

Tikum di SPBU Kapin Kalimalang

Hari Jumat sore jam 18.10 saya di di bbm Pram kalo dia udah ngetem di Tikum 1, hadeuhh mana barusan sampe kantor pulang ya udah segera mandi bebek dan prepare trus ketemuan deh dan lanjut ke Tikum 2. Kondisi jalan Ciater Raya-Ciputat-TB Simatupang dan Kalimalang, ruameee banget gegara ada antrian panjang di tiap SPBU menjelang kenaikan harga BBM. Motor banyak banget di jalan mirip pas mudik lebaran. Pram yang menggunakan sidebox Givi Trekker 33 cukup kerepotan menembus padatnya lalu lintas di malam itu dan menjelang Cawang sempet nyenggol mobil dah tu sidebox..huhuyy..udeh gak prewi ya Pram box ente wkwkwk… Kita akhirnya sampe di TIkum 2 sekitar jam 20.30 dan disana sudah menunggu Joe, Uchon, Fauzi trus menyusul Bimo Nugoho. Setelah rehidrasi dan berdiskusi sambil menunggu macet mereda diputuskan mengambil jalur alternatif via Subang-Cikamurang-Kadipaten-Palimanan trus ke Cirebon untuk menghindari macet di Ciasem-Kandanghaur-Losarang karena perbaikan jalan dan jembatan. Disitu juga diketahui kloter Bekasi 2 (Uda Tedy and the geng) tikum di Tambun dan berangkat sekitar 11 malem.

Okehhh..jam 22.00 setelah semuanya komplit kita gear up dan….macetnya masih parahh. Pelan2 mlipir kearah Tambun dan selepas Bekasi traffic mulai longgar lalu diputuskan mencari tempat makan karena Pram belum sempat makan malem. Nemu dah warung pecel lele dan disaat itu gabung om Andrie yang awalnya mau gabung di Tikum Tambun, yaudah jadi makan malem bareng. Cuaca malam itu sangat cerah dengan dilengkapi bulan, wah akan menjadi riding yang menyenangkan, batinku. Saya sendiri, Joe, Pram, Fauzi, Uchon, om Andrie dan Bimo Nugroho meluncur dengan mulus memasuki pantura. Sesampainya di Kosambi Joe mengarahkan rombongan belok ke kanan, kami di rombongan sih nurut aja, tapi di layar GPS saya kok rute yang dilalui berubah warna menjadi merah dan anehnya pengemudi kendaraan2 besar ngeliatin kita dengan aneh serta nggak ada pengendara roda dua sama sekali. Semua keanehan itu akhirnya terjawab setelah di depan kita muncul gerbang tol Kosambi ! hahahahah saya spontan ketawa ngakak ternyata itu jalan yg mengarah ke Tol Kosambi hahahahaha ya udah muter lagi dah sambil diliatin dengan pandangan2 aneh pengemudi disitu. Sekembalinya ke jalur utama ternyata di belakang persis rombongan kami nyusul rombongan Uda Tedy dari tikum Tambun yang juga berjumlah 7 motor seingat saya ada Riva, Lukman, Om Farid, Herri lainnya lupa siapa aja namanya dan karena saya berada di no 3 dari depan saya baru tau setelah suatu jalan alternatif dari Karawang menuju Purwakarta, jadi total kami ada 14 motor. Pantesan di spion panjang bener deretan lampunye.

Saya membantu navigasi Joe sebagai RC untuk melewati jalan alternatif itu, karena emang jalan kecil di pedesaan, tidak ada siapapun dari kami yang pernah lewat dan hanya mengandalkan GPS saja. Alhamdulillah, kota Purwakarta sudah sampai. Berhenti sebentar ada kabar kalau Duta sudah sampai duluan dan menunggu di SPBU di depan tempat kami beristirahat, sekalian bersalaman sama rombongannya Uda Tedy.  Saya, Fauzi dan Bimo Nugroho membahas beberapa penampakan yang dilihat sepanjang jalan. Hadoohhh…kenapa yak masih aja diliatin X_X. Sesampainya di SPBU yang dimaksud dan mau refueling ternyata udah abis, efek pemborongan sebelum kenaikan harga bensin neh dan dari GPS terlihat ada SPBU lagi kurang lebih 1 km di depan sebelah kanan jalan. Setelah membangunkan Duta, saya, Joe dan Uchon pun meluncur duluan untuk mencari SPBU dan dimaksud dan tak lama kemudian rider lain menyusul dan jumlahnya menjadi 15 motor :D

Refueling di Campaka, Purwakarta

Refueling di Campaka, Purwakarta

Setelah refueling inilah tragedi nyasar terjadi, dari Purwakarta kami menuju Subang melewati Kalijati, jalur ini kami lewati tanpa masalah, masalahnya sesampainya di Subang kami kebingungan mencari jalur menuju Cikamurang. Ngikutin GPS sempat diarahkan ke Bandung di sebuah perempatan. Saya curiga karena di GPS kok jarak yang tersisa malah bertambah dan menunjukkan kearah Bandung dan akirnya kami memutuskan bertanya ke bapak2 dan memang itu jalur menuju Bandung. Hadoohh mungkin ini map softwarenya belum up date kali ya, kami pun memutar dan di perempatan tersebut berbelok ke kanan. Disini pun akirnya juga kebingungan lagi karena menemui persimpangan, lalu bertanya lagi ke bapak2 yang lagi begadang (kurang lebih jam 1.30 dini hari). Oleh bapak2 itu diarahkan ke jalan yang lain masuk lagi ke pinggiran kota Subang menuju Cikamurang tetapi GPS menunjukkan arah yang berlawanan, pada sebuah SPBU saya refueling lalu bertanya ke petugas dan ternyata arah tersebut malah jauh memutar dikarenakan arah ke Cikamurang melewati perkebunan karet yang gelap. Mungkin bapak2 tadi niatnya baik supaya kami tidak melewati jalur gelap tersebut karena dikawatirkan rawan. Setelah refueling kami pun mengarah kembali ke jalur yang ditunjukkan petugas SPBU, moral team sudah mulai menurun karena lelah, mengatuk dan beberapa kali salah arah. Tetapi kali ini GPS sudah menunjukkan jalur yang benar. A positive sign.

Alasan kami memutar melalui jalur tersebut sudah disebutkan diatas, namun tak lama memasuki pinggiran wilayah Cikamurang terlihat antrian kendaraan mengular, padahal ini sekitar jam 2 dinihari loh, ada apa ini? Terakir saya lewat sini lancar jaya di siang hari. Ternyata sebagian kendaran menghindari kemacetan di lintas Losarang-Ciasem dan lewat kesini jadi volume kendaran bertambah termasuk kendaraan besar seperti bis dan truk, diperparah dengan proyek betonisasi jalan yang Cuma 2 lajur itu. Jadilah antrian sepanjang berkilo kilo meter karena menggunakan sistim buka tutup. Untung motor kami dapat selap selip di bahu jalan yang berupa tanah dan kubangan, satu persatu Joe dan Uchon memandu kami yang terdiri dari 15 motor melewati trek yang sempit diantara kendaran2 besar. Keadaan ini sungguh diluar perkiraan kami karena awalnya mengira perjalanan akan lancar bukan disuguhi medan offroad diantara kendaraan besar. Tidak kebayang antrian tersebut akan berakir kapan, mungkin mereka akan sampai di tujuan sore keesokan harinya. Lepas Cikamurang kami berhenti di sebuah Masjid yang cukup besar, waktu menunjukkan sekitar jam 4 subuh. Rombongan bisa tidur sejenak dan melakukan ibadah sholat subuh setelah fisiknya terkuras karena macet sebelumnya. Ternyata rombongan 15 motor itu banyak ya hahahahha..sampe penuh parkiran masjid dan di halamanya ada warung lengkap dengan bangku dan bale2nya, jadi bisa sarapan, ngupi dan merem sebentar. Canda tawa dan senyum lega terpancar di wajah2 peserta, semangat mereka mulai tumbuh kembali untuk mencapai destinasi di hari itu, meski di depan kami belum tahu akan ada tantangan apa lagi.

Rest Point Cikamurang

Rest Point Cikamurang

Menginjak jam 6 pagi kamipun bersiap kembali, Kota Cirebon dari titik ini masih 91 KM lagi, not bad. Perjalanan dari Cikamurang cukup lancar karena perbaikan jalan sudah tidak ada dan dengan kondisi jalan aspal dan beton yang mulus. Kami disuguhi pemandangan Gunung Ciremai dan hamparan kebun serta hutan di kanan jalan, di kiri jalan juga hamparan hutan diselingi kebun. Sungguh indah Nusantara ini ya Allah, saya tak henti2nya bersyukur melihat semua ini dan pasti semua rider menikmati hal ini.  Di sebuah SPBU rombongan berhenti, ada beberapa yan butuh refueling dan yang lain memanfaatkan untuk foto2an di pinggir jalan, bahkan sampai masuk ke pekarangan orang, ya karena pemandangan disana cukup indah. Selepas Kadipaten kami memasuki pertigaan utama dari arah Majalengka menuju Palimanan. Yess…kembali ke peradaban hahahahah…jalur tersebut biasa saja dilalui dan akirnya kami sampai di pertigaan Palimanan, Cirebon di hadapan mata dan Om Andrie request break karena masih mengantuk. Oleh Joe kamipun diarahkan di sebuah SPBU besar di pinggir kota Cirebon. Everybody take 5. Menjelang jam 9 pagi karena sudah mulai panas kamipun lanjut untuk mencari makan siang di RM Kalijaga daerah Gebang, setelah kota Cirebon, kami juga makan disini saat ke NNDR November silam, langgananya Pram ini mah, disini bisa selonjoran dan menikmati hawa sejuk persawahan. Disini Lukman menyarankan agar rombongan belok di Losari arah Cileduk lalu mengarah ke Slawi lewat jalur tengah mengingat kemungkinan Tegal macet parah (baca:trauma) hahahahah.

Uda Tedy dengan sabar nungguin yang foto2

Uda Tedy dengan sabar nungguin yang foto2

Lunch Break di Gebang

Lunch Break di Gebang

Tak lama menyusuri pantura kamipun tiba di Losari dan belok kearah Ciledug. Lumayan seger melewati jalur pedesaan, bisa mengendarai motor dengan santai dan menikmati pemandangan. Di suatu belokan ke kiri Lukman mengarahkan kami, jalan kecil memotong melalui pedesaan, anak2 kecil pun keheranan melihat rombingan kami. Disini beberapa dari kami tertinggal karena harus mengunggu rombongan di belakangnya agar tidak salah arah, maka kami yang ada di depan menunggu, dan ternyata di dekat sebuah jembatan ada bapak2 penjual es cendol. Lumayan nih panas2 ada es cendol, mirip kejadian RLL di Jatiluhur hahahahha apa ini akan jadi Jatiluhur part 2? *Cendolnya Gan*.  Sambil nunggu rider lain datang menyusul dan menikmati es cendol, tiba2 datang seorang rider lagi, bertanya kepada kami “mau ke Guci mas?”  ternyata dia adalah Lingga Oktapa, member Nusantaride dari Bandung, tanpa GPS hanya berbekal pace note yang dia buat dari info Gmaps melalui jalur tengah…mantapss…kami ajak dia gabung..hmmm jadi 16 motor nih. Setelah menikmati es cendol, foto2 di jembatan dan semua rider sudah berkumpul maka kami melanjutkan perjalanan. Jalur tengah Ciledug-Slawi. Kondisi jalan mula2 mulus lama kelamaan berubah menjadi jalan rusak, ya, rusak dengan lobang2 besar menganga (baca:potholes), perbaikan jalan, kubangan yang becek, debu yang berterbangan dan pengendara motor sekitar yang nekat. Frustasi part 2 judulnya. Slawi yang kurang lebih berjarak 50an KM jadi lama sekali dikarenakan 70% kondisi jalan jelek, capek, panas, debu dan lalu lintas yang padat. Apakah ini ujian menuju Guci?

Playlist dari Van Halen terdengar di headset helm saya, seolah memompa adrenalin dalam menembus jalur ini. Jalan jelek demi jalan jelek dilalui oleh rekan2 lain dan mereka berpencar agar lebih leluasa menembus padatnya jalan tersebut. Tak terihitung berapa kubangan lumpur kami lalui bersama sama kendaraan besar lainya. Sama seperti di Cikamurang, kondisi jalan ini sangat menuras tenaga sampai2 lengan dan telapak tangan terasa sakit dan pegal serta kaki sampai gemetar karena terus menerus harus berdiri meredam guncangan jeleknya jalan tersebut. Sampainya di sebuah bangunan pabrik kuno yang besar yang ternyata Pabrik Gula Pangka kami beristirahat. Bertanya ke penduduk sekitar ternyata ada short cut menuju Guci lewat jalan di samping PG itu, lurus aja nanti pertigaan belok ke kiri. Benar saja, kondisi jalan jauh lebih baik. Saat itu sekitar pukul 2 siang. Tiba kami ke jalur utama Tegal – Guci, setelah berbelok ke kanan jalan mulai menanjak, GPS menunjukkan 30 km lagi sampai ke koordinat yang dituju, semangat pun menyeruak kembali dan perasaan exciting menggebu nggebu mengingat akan melewati jalan tipikal pegunungan yang berkelok dengan pemandangan indah serta sudah ditunggu sahabat Nusantaride yang telah datang dari pagi. Dengan menjaga irama berkendara kamipun sangat menikmati jalur dan pemandangan menuju Guci, terbayar kontan sudah rasanya semua masalah dan rintangan di perjalanan tadi. Mengutip kata om Farid “semua akan indah pada saatnya” bener2 terasa saat itu, saya sendiri sampe bingung mau lihat pemandangan di kiri atau kanan, sambil mantau jalan dan GPS di saat yang bersamaan. Hawa sejuk mulai menyeruak ke dalam jaket kami, menggantikan hawa panas yang berdebu dan langit menunjukkan kecerahaan seolah merestui pertemuan kami dengan sahabat Nusantaride. Tiba akhirnya kami di gerbang wisata Guci, sambil menunggu Uchon dan Joe yang lagi foto2an di jalur tadi kami iuran biaya masuk, foto2 dan mengabari ke Om Jul kalo kami sudah sampai dan ternyata teman2 sudah ada di penginapan karena di tempat pertama sudah gerimis. Kami diminta menuju langsung ke penginapan tersebut. Menyusul tak lama kemudian mas Adi Cumik, mimin forum Nusantride.

Pemandangan otw Guci

Pemandangan otw Guci

We're made it !

We’re made it !

Setelah urusan adminitrasi beres kamipun masuk kawasan wisata dan langsung menuju penginapan dan tak lama, di sebuah rumah ujung tanjakan sebelah kanan saya melihat banyak orang berdiri dipagar sambil melambaikan tangan. Subhanallah, banyak bener sahabat Nusantaride yang datang dan Alhamdulillah akhirnya kamipun tiba di penginapan tepat pukul 4 sore.  Halaman penginapan yang luas cukup memudahkan menampung kurang lebih 40 motor dari berbagai jenis, dari matic sampai moge, komplit. Turun dari motor, copot helm dan glove saya langsung menuju ke sahabat2 saya yang sudah lama mengunggu kami terutama om Jul. Salam hangat saat berkenalan dan peluk erat mengungkapkan rasa persahabatan dan persaudaraan yang dalam meski sebagian dari kami baru bertemu saat itu. Sangat lega rasanya kami bisa hadir disana, bercanda tawa dan ngobrol tentang masing2 pengalaman di perjalanan menuju kesini. Setelah istirahat sejenak dan mencoba beberapa cemilan kamipun mulai berkumpul untuk sesi sharing. Dibuka oleh sang Mimin mas Adi Cumik mulai menjelaskan apa itu dan bagaimana bentuk Nusantaride kepada sahabat Nusantaride yang baru bergabung. Saya kebagian menjelaskan bagaimana awal sejarahnya terbentuk forum ini beserta action plan kedepanya agar semua sahabat Nusantaride dapat berperan serta dalam kegiatan ini. Sharing session dilanjutkan ke sesi perkenalan yang dipimpin oleh Uchon, mengingat selama ini kami berinteraksi di dunia maya dengan menggunakan nama lain. Banyak hal2 lucu di sesi perkenalan ini, saya saja baru tau kalo foto dengan action seperti lumba2 yang loncat di Pantai Sundak ternyata pelakunya mas Sigit yang duduk di sebelah saya hahahahaha.

Menjelang penginapan

Menjelang penginapan

Ngariung, melepas kangen dan bersilaturahim

Ngariung, melepas kangen dan bersilaturahim

Family Picture

Family Picture

Kok pada serius pas sharing ya ?

Kok pada serius pas sharing ya ?

Setelah lepas magrib acara sharing pun selesai dan kamipun telah mengenal sahabat kami dengan lebih dekat lagi. Acara selanjutnya adalah berendem air panas alami. Tidak semuanya ikut karena akan istirahat sebentar dan pulang ke Jakarta. Setahu saya yang pulang malam itu ada Adi Cumik, Om Andrie, Reza, Uda Tedy, Riva, Lukman dan Mas Alfian. Heh? Pada makan apa sih om kok kliatannya gak punya capek? Belum sah ke Guci kalo belum berendem kata mas Agung Rantank sang kuncen Guci *ehh. Setelah mempersiapkan peralatan mandi kamipun berangkat, sekitar pukul 7 malam dan temperatur menunjukkan di angka 16oC seperti yang tertera di indikator di motor saya. Cukup dingin memang, tak sabar ingin nyelup ke kolam air hangat alami untuk meluruhkan keringat dan debu perjalanan yang menempel sambil relaksasi semua otot dibadan. Ternyata sangat nyaman lho berendem di kolam air hangat terbuka, malem2 pulak. Apabila pemerintah setempat mempercantik lokasi dan merawatnya dengan baik bukan tidak mungkin bisa mirip pemandian air panas alami di Sapporo, Jepang, sambil berendem nyeruput Sake panas *ehhh. Setelah berendem dan kedinginan pas ke kamar ganti (*sumpe dingin buanget) saya, mas Alfian dan Duta ngeteh sambil ngemil gorengan tahu aci di deket sana, lalu makan nasi goreng rame2 pas menuju penginapan. Sesampainya di penginapan saya langsung bobok, tanpa basa basi.

Berendem cari pencerahan jalur pulang besok

Berendem cari pencerahan jalur pulang besok

Minggu, 23 Juni 2013 jam 06.00 pagi. Saya dibangunkan oleh Pram untuk foto2 dan explore kawasan wisata Guci. Cuma modal cuci mata kamipun bersiap siap dan menyiapkan motor di pagi itu. Elap sana elap sini biar sedikit kinclong mau difoto. Temperatur menunjukkan 11oC buat saya suangat dingin di pagi itu meski matahari bersinar cerah. Kamipun meluncur ke kawasan Bumijawa mencari spot yang bagus. Selanjutnya biar foto yang berbicara aja ye…

Sebuah jembatan di desa Bumijawa

Sebuah jembatan di desa Bumijawa

Keren kan ?

Keren kan ?

Tuh kan serius foto sessionya sampe pake guling2 segala

Tuh kan serius foto sessionya sampe pake guling2 segala

Penulisnya boleh dong ikutan mejeng *eh

Penulisnya boleh dong ikutan mejeng *eh

Curug di dekat bumi perkemahan Bumijawa

Curug di dekat bumi perkemahan Bumijawa

Kami kembali ke penginapan pukul 9an pagi dan segera mencari sarapan sementara temen2 Jogja bersiap pulang. Setelah melepas teman2 Jogja meluncur jam 10an pagi kami segera mandi dan bersiap2 untuk pulang juga dengan rencana mampir ke RM Sate Kambing Balibul (bayi lima bulan) untuk makan siang. Rombongan terdiri dari Joe, Pram, Uchon, saya, Bimo Reca, Duta, Fauzi, Lingga dan Sigit. Lingga memutuskan untuk bergabung dengan kami riding ke barat dan berpisah di Palimanan kearah Bandung, sedangkan Sigit akan berpisah ke belokan yg kearah Batang. Jam 11 pun kami pamit dan meluncur ke bawah, menuju RM Sate Balibul, menurut Uchon –yang direferensikan oleh koleganya- rumah makan khas ini hanya ada di Jalan Raya Tuwel yg menghubungkan Slawi ke Guci. Setelah Sigit memisahkan diri kamipun tiba di RM Sate Balibul milik H. Abdullah Ma’shum. Saat itu Pak Haji sendiri yang sedang portioning dan meracik sate kambing yang akan dibakar. Setalah semua terhidang memang enak itu sate, lembut dan kenyal, Joe sama Uchon sampe nambah sup kambingnya. Erk Lekker kata wong londo, dan cukup murah. Alhamdulillah, setelah semua hidangan sate kambing muda dan sup kambing tandas kamipun bersiap2 untuk pulang, jam 12 siang waktu itu. Jalan menurun menuju Slawi cukup mulus dan mempunyai tikungan2 yang menyenangkan untuk dilalui, tak lupa pemandangannya yang indah. Menjelang kota Slawi rombongan pun berhenti di sebuah bengkel rupanya laker roda depan Jupe nya Uchon oblak. Sambil menunggu perbaikan kami pun bisa menunaikan Sholat Dhuhur di masjid seberang bengkel sambil rebahan sebentar meluruskan badan. Perbaikan selesai pukul 2 siang dan kami langsung berangkat menuju Slawi dan Tegal, sempat terlihat petunjuk jalan menuju Semarang, trenyuh juga hati saya teringat rumah dan keluarga disana. I will be home soon baby. Tepat jam 3 sore kami sampai di kota tegal dan langsung mengarah ke barat, kondisi Pantura cukup panas saat itu, tercatat temperatur 34oC dan sinar matahari langsung mengarah ke kami. Tegal-Brebes kami lalui cukup lancar dengan cukup space untuk bermanuver menghindari beberapa jebakan betmen di tengah jalan, sang RC, Joe, cukup handal mengarahkan rombongan. Kami perhatikan jalur lawan yang mengarah ke Timur macet cukup panjang mulai dari luar Tegal. Memasuki Pejagan kerusakan jalan semakin menjadi, tidak ada pilhan lain untuk berjalan pelan disana.

Enih te ka pe nya

Enih te ka pe nya

H Abdullah Ma'shum sedang meracik satenya

H Abdullah Ma’shum sedang meracik satenya

This is it ! Sate, sup kambing beserta kondimennya

This is it ! Sate, sup kambing beserta kondimennya

Selamat makann !!!

Selamat makann !!!

Alun2 Brebes terlewati, teringat saya suka berhenti disini kalau sedang mengarah ke Jakarta di malam hari, karena ramai dan penuh jajanan kaki lima, sungguh hidup suasananya dan saya senang mengamati denyut kehidupan lokal dengan banyak keragaman budayanya. Setelah Brebes, Losari pun juga terlewati, di pertigaan yang mengarah ke Cileduk yang kami lalui kemarin saya dan Uchon pun melambaikan tangan, Guci semoga saya bisa kesana lagi. Perbatasan Jawa Barat saya pun kembali melambaikan tangan, entah mengapa setiap melakukan perjalanan saya selalu merasa sentimentil terhadap jalan dan tempat yang pernah saya lalui. Selepas jalur Losari-Tanjung yang monoton kami pun berhenti di sebuah toserba lokal untuk istirahat karena panas yang menerpa sepanjang perjalanan. Cemilan dan air putih pun kami konsumsi sambil ngobrol dan bercanda ketika seseorang datang menghampiri kami dan langsung mengajak berkenalan. “Opik” sebutnya memperkenalkan diri ke satu persatu dari kami, dia dari Black Motor Community yang berdomisili di Brebes, sambil ngobrol2 Opik mengundang kami untuk mampir ke tempat kopdar mereka apabila salah satu dari kami melewati Alun2 Brebes di malam minggu, kebetulan timpal saya, saya suka jalan malem kalo ke Semarang atau sebaliknya, mudah2an waktunya pas dan Allah mengijinkan bisa silaturahmi dengan Opik dan kawan2. Pada saat kami bersiap siap pulang Opik tiba2 masuk ke toko dan membawakan kami sekantong plastik jajanan. “Untuk cemilan di jalan pas istirahat om” katanya. Seketika itu kami gak bisa ngomong demi melihat dan merasakan ketulusan dan kebaikan Opik. Padahal sebelumnya saat kami bertukar nomer HP dan minta dia add account FB kita dia bilang belum beli pulsa karena duitnya mepet. Sungguh saat itu saya malu karena kadang saya khilaf tidak bisa sebaik dan setulus itu di kehidupan sehari hari terhadap orang yang baru saya kenal dan saya temui. Sebuah kearifan lokal yang jarang ditemui di kota2 besar.

Dengan Opik, Brebes Black Community

Dengan Opik, Brebes Black Community

Cirebon, Jalan Tuparev

Cirebon, Jalan Tuparev

Perjalanan kami lanjutkan dan merencanakan untuk Ishoma di sekitaran Cirebon. Kondisi jalan cukup lancar dan lengang sampai kami masuk di Jalan Tuparev Cirebon. Menjelang magrib kami sampai di depan Cirebon Square dan berhenti untuk menanyakan tempat makan dan istirahat yang representatif ke rekan saya Aji Pinky. Olehnya disarankan ke RM Ayam Bakar Alas Demang, sebelum pertigaan Palimanan dan tepat waktu magrib kami tiba disana. Tempat makan lesehan yang nyaman, kamar mandi yang bersih dan tempat ibadah yg bagus membuat kami sedikit berlama lama disini. Terbersit kekhawatiran kemacetan hebat di hadapan kami tapi tepis jauh2, que sera-sera lah batin saya. Setelah makan2 selesai, ngobrol2 pun dilanjut dengan cerita pengalaman2 mistis dan pengalaman perjalanan kami masing2, canda tawa diantara kita tetapi Lingga malah diem aja seperti mikir. “Wah entar ane jalan sendirian om ke Bandung, ceritanya malah serem2 hahahahha” timpalnya…..Setengah 8 malam kami meluncur kembali dan berhenti untuk melepas Lingga kearah Bandung. Till we ride again mate !

Dinner break & Ishoma

Dinner break & Ishoma

Makan lagiiii...*ehh

Makan lagiiii…*ehh

This is it, the hardest ride from Indramayu – Cikampek. Kami sudah menyiapkan mental menghadapi kemacetan yang buruk sekalipun di jalur ini. Menjelang Losarang udah mulai macet, tapi masih lancar karena bisa ditembus dengan mudah dan sesudahnya kita dapat jalan dengan kondisi relatif mulus. Oiya, disini bergabung kembali Lukman setelah pulang dari Kuningan. Menjelang Kandanghaur macetpun mengular, tapi anehnya kami bisa lalui dengan baik dan membuat sedikit lega. Tetapi ujian belum berakir kawan, setelah melewati jalan dengan kondisi aspal yang digaruk yang membuat handling motor ngegeol kesana kemari kamipun disuguhi pemandangan macet yang luar biasa, Kandanghaur mah lewat jauh kondisinya. Susah sekali kami terabas karena mobil2 lain ikut mengambil jalur tanah di bahu jalan sehingga ikut membuat macet kami, ditambah kondisi yang sangat sangat berdebu membuat saya tidak berani membuka helm lama2 karena takut sesak nafas. Dua jam kami melewati kondisi macet yang luar biasa ini yang membuat kondisi fisik langsung melorot drastis. Setelah menemukan SPBU di Lohbener kamipun langsung beristirahat untuk menghela nafas dan memeriksa kondisi motor karena telah melewati kondisi jalan yang jelek luar biasa. Disini juga kami berkenalan dengan komunitas RX King dari Jakarta. Sebenarnya tidak terhitung berapa kali kami berhenti karena kelelahan yang disebabkan kemacetan dan ngantuk. Menjelang fly over di Pamanukan motor Fauzi mengalami trouble kelistrikan yang menyebabkan injektornya mbrebet. Saat itu Pram, saya dan Lukman sudah di depan, via bbm Uchon mengabarkan untuk jalan duluan karena tujuan kami lebih jauh. Terbagilah menjadi 2 kloter, dibelakang ada Uchon, Fauzi, Duta dan Bimo Nugroho. Selepas lingkar luar Cikarang tiba2 Pram mendadak belok ke SPBU, perasaan udah ngisi bensin deh dia ehh gak taunya mau rebahan, “ngantuk banget dah” katanya. Ketika saya dan Lukman nungguin Pram bobok, lewatlah dengan kencang kloter kedua, cerita punya cerita mereka berusaha mengejar kami dengan harapan bisa ketemu di Bekasi.  Perjalanan dilanjutkan menuju Tangerang dan Lukman berpisah di Bekasi. Tinggal berdua saya riding dengan Pram dengan kondisi yang mengantuk pada pukul sekitar jam setengah 4 subuh dan di hari senin, dimana kita harus langsung ngantor hahahahahahaha. Alhamdulillah setelah berjuang keras melawan ngantuk yang luar biasa saya bisa tiba di BSD jam 04.30 dan Pram tiba di Cikupa pukul 05.00, teman2 lain tiba sekitar pukul 4 subuh setelah itu kami saling update info melalui grup BB. Bisa kebayangkan dari tegal jam 3 sore sampe rumah jam 5 subuh? Hamdalah. It’s a wrap.

Trouble menjelang Cikarang

Trouble menjelang Cikarang

Alhamdulillah perjalanan dan petualangan kali ini bisa berlangsung dengan Zero Accident meskipun kondisi jalan yang sangat tidak bersahabat dengan pengendara roda 2. Sungguh suatu kebahagian yang sangat besar bisa bertemu sahabat2 Nusantaride dari Jateng, DIY dan Jatim dengan jumlah yang cukup banyak serta bisa memanjangkan silaturahim, semoga kami diberikan kesempatan, umur panjang dan rezeki untuk bisa bertemu lagi dengan sahabat sekalian. Terima kasih kepada Allah SWT atas perlindungan selama perjalanan dan cuaca yang sangat bersahabat, teman2 seperjalanan Nusantaride Pram, Uchon, Fauzi, Bimo Nugroho, Duta, Om Andrie, Riva, Om Farid, Uda Tedi, mas Herri, Joe, Lukman, Lingga, Sigit, Agung Rantank dan semua sahabat Nusantaride yang telah berjabat tangan dengan kami di venue, mohon maaf bila kami tidak ingat dengan nama sahabat satu persatu, tetapi apabila kita bertemu kembali di salah satu tempat di Nusantara ini kita pasti bisa saling mengenali, karena kita mempunyai rumah dan keluarga yang sama yaitu Nusantaride. Sampai ketemu lagi kawan.

 

-There’s always an element of surprise and warm friendship in every adventure, Nusantaride June 2013-

 

 

 

 

 

Riding Impression TVS Apache RTR 180 Sap7aranu Nusantaride Edition

9 Apr

Pada saat pelaksanaan Parjo, Pasar Jongkok Otomotif 6-7 April 2013 saya berkesempatan mencoba motor yang akan digunakan oleh Team Sap7aranu (baca: Saptaranu) yang akan digunakan mengeksplorasi 7 danau di pulau Sumatra selama 50 hari dengan total jarak 8000 KM. Tulisan ini akan mengulas sebatas riding impression saja dan tidak mengulas detail secara teknis, yang ringan ringan saja yah hehehe.

Saya datang setelah acara press conference Team Sap7ranu selesai, ngobrol dengan team member yang terdiri dari Pak Reza Patunru yang akrab dipanggil Pak Ija sebagai team leader, Andry Berlianto, Pak Andre dan Rere. Saya mengamati 2 motor TVS Apache RTR 180 yang akan digunakan dalam ekspedisi tersebut. Modifikasi fungsional yang telah dipasang adalah windscreen dari Geba Bandung, yang berfungsi mengarahkan angin ke atas kepala dan kesamping sehingga mengurangi tekanan angin di muka helm, dada, bahu dan lengan atas lalu pannier alumunium produk 7Gear sebagai bagasi tambahan, spoke wheel dan ban dual purpose yang cukup handal untuk melintas jalur offroad. Cukup surprise juga melihat Apache yang sudah di dress up sehingga terlihat gagah, melebihi ekspektasi saya sebelumnya

Tuh motornya, gagah kan :D

Tuh motornya, gagah kan :D

Ada dua unit motor TVS Apache RTR 180 Sap7aranu Nusantaride Edition yang dipajang yaitu kepunyaan Pak Ija dan Andry. Perbedaanya di motor Pak Ija menggunakan handle bar Tiger Revo yang lumayan tinggi dan kepunyaan Andry seperti foto diatas menggunakan handle bar YT yang lebar. Sambil ngobrol iseng saya tanya ke Pak Ija apakah diberbolehkan untuk mencoba motornya dan beliau dengan antusias menjawab “woohh..silahkan mas!” Hahayy…kesempatan pertama yang nyoba sih temen saya Pey, saya amati saat teman saya yang mengendarai sepertinya ini motor mempunyai torsi yang cukup galak karena dibejek bejek gasnya nurut aja dan nyaman dibawa meliak liuk mengitari cone slalom.

Mejeng dulu sebelum ngegas

Mejeng dulu sebelum ngegas

Tiba giliran saya, kesan pertama saat duduk di jok motor tersebut adalah rebound suspensinya yang cukup lembut, baik untuk depan dan belakang. Apakah tipikal motor produk India seperti ini ya ? saya pernah mencoba motor Pulsar 220 milik rekan saya, baik TVS dan Pulsar saat itu menggunakan pannier dalam keadaan fully load dan memang, rebound suspensinya sangat lembut. Ini sangat berguna saat melewati jalan gravel atau offroad ringan tetapi pada saat melibas jalan mulus terutama pada saat cornering terbersit kekhawatiran rebound yang berlebihan terutama pada shock depan sehingga ada efek mengayun. OK, ngetes suspensi udah, menakar bobotnya sudah dan saatnya menyalakan mesin, serta mempelajari console panel. Saya sempat sedikit kagok karena motor pak Ija menggunakan handle bar tinggi sementara saya terbiasa dengan handle bar yang lebar. Raungan mesin terdengar halus sekali tetapi pada saat handle kopling dilepas terasa sekali limpahan torsinya, TVS sangat bermurah hati mengumbar torsi di motor ini, meski cuma berkapasitas 180 cc, beda sekali dengan Honda Tiger 2000 saya yang saya gunakan sehari hari. Ini sangat berguna untuk menghadapi tanjakan dan jalan offroad, tidak perlu memelintir selongsong gas terlalu dalam motor udah ngacir.

Sesaat setelah jalan perlahan menyesuaiakan handling dan rem maka saya mencoba meliuk slalom diantara cone yang disiapkan. Meski sudah menggunakan pannier tidak terasa berat dan liar handle bar saat dibelokkan mengikuti cone slalom, motor pun dengan nurutnya mengikuti arah kemudi, sangat nyaman dan mudah dikendarai. Kemudian saya mencoba mengendarai motor dengan berdiri, bukan berakrobat maksudnya, tetapi teknik enduro riding seperti ini diperlukan saat melibas jalan yang tidak rata sehingga getaran ataupun guncangan motor diredam oleh kaki dan tangan serta menambah keseimbangan dan menjaga organ keseimbangan kita tidak dipengaruhi oleh guncangan motor. Jarak dan sudut lengan terhadap handle bar serta posisi kaki pada saat berdiri cukup nyaman dan tetap bisa mengendalikan handle bar, rem depan dan belakang, kopling serta pemindahan persneling bisa dilakukan dengan nyaman pada posisi berdiri ini.

Pada saat melewati trek slalom dengan posisi berdiri terasa mudahnya dengan posisi duduk di jok mengendarai motor ini, saya sama sekali tidak kagok melakukan slalom dengan berdiri di motor. Cukup menggunakan gear 1 dengan buka tutup gas sesuai irama belokan di cone dan koreksi kecepatan dengan lembut menggunakan rem belakang. Perfect. Bisa dibayangkan saat bermanuver di medan offroad motor ini akan sangat mudah dikendalikan, cuma butuh sedikit pembiasaan saja maka motor ini terasa sangat jinak. Kebetulan di sebelah trek test ride ada hamparan tanah dengan rumput yang dibatasi oleh semacam pembatas paving. Mumpung sepi motor saya naikkan kesana. Dengan posisi gear 1 berjalan perlahan masih di posisi berdiri motor terasa sangat stabil, sedikit sentakan gas, hup ! maka motor udah naik dengan mudahnya. Diatas medan tanah berumput itu saya sedikit buka gas dan benar, suspensi lembutnya dengan sempurna meredam kountur tanah yang tidak rata, kembali saya melakukan sedikit hard braking depan belakang maka motor berdeselerasi dengan sempurna dan kembali turun ke aspal. Sangat menyenangkan mengendarai motor ini. Oiya, peranti rem sudah di upgrade menggunakan part Yamaha Scorpio beserta tromolnya.

Posisi berdiri yang nyaman saat slalom

Posisi berdiri yang nyaman saat slalom

Tinggal satu test yang saya lakukan yaitu berbelok tajam masih dengan posisi berdiri, dan memang bisa dilalui dengan mudahnya dengan menggunakan motor ini. Well, overall motor ini sangat user friendly meskipun sudah diberi beban tambahan berupa pannier dan isinya, dikombinasi dengan torsi berlimpah maka saya merasa seperti anak2 yang barusan mendapat mainan barunya. A lot of fun to ride. Tinggal dibuktikan endurance/ketahanan mesinnya saja saat benar benar menjelajahi 8000 km dengan berbagai kondisi jalan.

Berbelok dengan mudahnya

Berbelok dengan mudahnya

Suatu keputusan yang tepat Team Sap7aranu Nusantaride memilih TVS Apache RTR 180 ini dan saya rasa juga pihak TVS juga pas mendapat partner Sap7aranu Nusantaride dalam mencoba ketangguhan motor ini. Sukses untuk TVS dan Sap7aranu Nusantaride dalam menjalankan misinya nanti untuk mengenalkan potensi di Sumatra secara lebih mendalam dan menunjukkan ke masyarakat bahwa alam Indonesia itu luar biasa indah. Terima kasih juga untuk para sponsor yang memungkinkan ekspedisi ini dapat terlaksana dengan baik.

Sebagai catatan :
Kondisi test ride dilakukan di lintasan tertutup tanpa ada gangguan lalu lintas kendaraan lain. Karena saya tidak menggunakan perlengkapan keselamatan berkendara saat sesi test ride, mohon jangan ditiru riding dengan cara seperti ini di jalan raya, sangat sangat berbahaya.

Catatan Perjalanan Bali Lombok 22-30 Mei 2010 Bag. 2

28 Sep

Pelabuhan Padangbai, 24.00 WITA

ada yang bertapa di Padangbai xixixi...

Sore sebelum berangkat saya mendapat sms dari Dio dan Eri HTML Lombok untuk memberi kabar akan menyebrang jam berapa, karena akan dijemput di pelabuhan Lembar. Setelah mendapat tiket dan mengantri menunggu kapal datang saya pun memberi kabar ke Dio dan Eri tentang jadwal keberangkatan. Terakir saya ke Lombok pada waktu saya kuliah taun 1995 backpacking bersama teman2 kuliah, 15 tahun yang lalu itu ckckckc….dulu tahun segitu Lombok sepi sekali, gimana keadaannya sekarang ya? Terompet kapal ferry berlabuh membuyarkan lamunanku, saya dan Guruh bersiap diatas motor dan masuk ke perut kapal, motor diparkir di dekat dinding lambung kapal dan diikat utk antisipasi jatuh karena gelombang. Pada saat di dek parkir saya ditawari abk utk

siyap2 bobok di kabin kapal

menyewa kamarnya sebesar 50 ribu, tanpa pikir panjang saya setuju, lumayan bisa selonjoran selama 5 jam pelayaran. Kamarnya kecil tapi bersih dan nyaman, Guruh langsung ambil posisi di bed atas saya di bawah dan bersiap tidorrrr…zzz…zzz..zzz..zzz..zz..selama tidur saya selalu terbangun saat kapal bergoyang karena ombak, rupanya gelombang cukup tinggi dan terasa sekali goyangannya….saya dzikir terus aja berharap gak kenapa kenapa….udah bagus enggak mabuk laut.

Pelabuhan Lembar, Lombok, 25 Mei 2010 Jam 05.00 WITA. Kami sudah dibangunkan oleh ABK karena kapal sudah merapat, beres2 dan segera turun ke dek parkir kendaraan..Bujuggg…isinya bis ama truk semua tuh kapal, mana parkirnya mepet2 lagi…Perlahan lahan diantara truk dan bis kami turun kapal…..diujung jembatan dermaga ada sosok pengendara tiger fullbox yang melambai2kan tangan sambil menyalakan klakson, kami hampiri dan ternyata Bro Eriasmono…mantan HTML Depok dan Moderator KHTI yang konon galak hahahaahahhahaha…..Eri dulu kuliah di Semarang dan sering ngobrol via KHTI dengan saya dan malah akirnya ketemu di Lombok….sungguh cerita yang rumit ya ri..halakh…Setelah ketemu dan salaman saya nyari toilet dulu karena udah kebelet pipis hehehehe….setelah itu kami menuju ke rumah bro Eri di Ampenan…perjalanan santai, Lombok diwaktu subuh cukup dingin dan sepi. Kurang lebih jam 6 kurang kami sampai di kota Ampenan di rumah bro Eri…ngobrol2 sebentar karena hari kerja Eri dan istrinya siap2 berangkat ke kantor serta berpesan nanti akan ada Saipan sama Dio yang akan nemenin muter2. Saya dan Guruh tidur lagi sambil menunggu Saipan sama Dio datang hahahaah….

Gerbang Kawasan Wisata Senggigi

Pantai Senggigi dari Karang Bolong

Pagi2 samar2 terdengar suara orang ngobrol di teras…ternyata Dio sama Saipan udah datang, oleh tuan rumah udah disiapin nasi goreng buat sarapan…wowww..tuan rumah yang baik nih Eri hihihihi….sambil ngobrol di teras kami berempat merencanakan kegiatan hari ini, pertama kita akan cari hotel, Guruh mengusulkan cari resort yang di pinggir pantai di Senggigi dan oleh Dio disarankan ke hotel tempat rombongan HTML Malang menginap waktu mereka di Lombok. OK, prepare…segera 4 motor meluncur ke kawasan wisata Senggigi…dari Ampenan

Guruh di Pantai Senggigi belakang hotel

trus begitu tiba di gerbang kawasan Senggigi kita foto2…Yes Gur, we’ve made it ! yang aneh sepanjang jalan banyak mobil bernopol H alias semarang, heh ? gak salah liat neh? Ini Lombok ato Semarang hahahah….Melewati Pura Batu Bolong kami pun berhenti sebentar di pinggir jalan untuk foto karena pemandangan yang bagus, lalu tiba di kawasan wisata Senggigi…mirip dengan Bali tapi disini moderenisasi belum terasa bener jadi masih kerasa alami banget. Sama Dio langsung diarahkan ke Hotel Darmarie dan langsuk cek in. Istirahat sebentar lalu Dio pamit balik ke Mataram untuk men service motornya Eri. Setelah mandi saya Guruh dan Saipan pun ke pantai Senggigi di belakang hotel…yippieeeee….foto2an sebentar sebagai barang bukti udah pernah nyampe Lombok on two wheels hahayy…setelah itu kami bersiap2 meluncur ke Mataram menjemput Dio. Motornya Eri di service di AHASS, disana kita menunggu sebentar sampai jam setengah 12an siang. Rencana setelah ini menuju ke Pantai Kuta di Lombok Timur kalo g salah, Dio udah berkoordinasi dengan bang Ardi yang Humas Lombok Tiger Club (Lotic) untuk mengantar kami

nongkrong di AHASS...dekil banget

Setelah urusan di AHASS kelar kamipun meluncur ke Mataram tempat bang Ardi menunggu, setelah ketemu dan saling meperkenalkan diri bang Ardi segera mengajak jalan mengingat langit semakin mendung..bener aja..ketika di daerah Peteluan hujan mulai turun, saya minta minggir untuk memakai jas hujan…..yang lain ? kagak pake sodara2…Guruh, bang Ardi, Dio ama Saipan cuek aja gak pake jas hujan dan tak lama kemudian hujan lebat sekali menerjang kami. Bener2 hardcore biker dah mereka…ampunnn…mendekati kota Praya hujan masih lebat dan bang Ardi mengarahkan kami ke rumah makan untuk makan siang di Warung Ijo, dengan kondisi basah kuyup kami berempat duduk di sebuah saung dan memesan makanan. Kami ngobrol sangat akrab dan memang slogan brotherhood without limit bener2 terasa secara harfiah disini. Bang Ardi banyak bercerita tentang perkembangan klub di Lombok, cerita soal Sumbawa, Pulau Lombok sendiri dan sebagainya. Rekan2 biker disana sungguh tidak memandang stiker apa yang menempel di motormu, dan bang ardi meminta kami sebelum pulang untuk mampir ke sekretariat Lotic, dengan senang hati saya mengiyakan, kapan lagi bisa ketemu muka dan silaturahmi dengan sodara2 jauh? Kesempatan yang langka ini. Karena hujan mulai reda dan jam sudah menunjukkan jam setengah 3 sore kami bergegas berangkat. Ternyata motornya Eri yang dipake Dio ngadat gak mau nyala, dicek busi, dll sama bang ardi tetep gak mau nyala. Akirnya diputuskan motornya Dio didorong sama bang Ardi ke bengkel terdekat. Oiya, Saipan udah memisahkan diri pulang duluan tadi karena banyak tugas kuliah.

Saya dan Guruh menyusul ke bengkel tadi dan motornya Eri sedang diperbaiki. Kami berembug karena sudah terlalu sore kalau dipaksakan ke Kuta bisa gelap sampai sana dan jalan pulangnya cukup berisiko kata bang Ardi, kita nurut aja mah sama yang punya pulau hahahaha…tapi sama bang Ardi kita dibawa ke calon bandara yang baru di Praya. Setelah motornya Eri idup gentian motor saya yang ngadat hadooohhhhh….setelah utak atik ini itu nyala juga akirnya hihihiihh…..perjalanan dilanjutkan, jalanan basah naik turun melewati perkampungan sungguh pemandangan yang sangat indah. Tak lama kemudian kami sampai di proyek bandara international Lombok yang baru, setelah bang ardi minta ijin ke petugas jaga kamipun diberi id pass masuk ke proyek. Parkir di depan terminal bandara kamipun berfoto ria, langit sehabis hujan cukup bersih sehingga gunung Rinjani tampak di kejauhan. Setelah puas berfoto ria kamipun kembali kearah Mataram, rupanya diam2 bang Ardi mempunyai rencana dengan tidak melewati jalan yang sama dengan keberangkatan tadi…selapas kota Praya di daerah Dare tiba2 rombongan dibelokkan ke kiri masuk ke bypass yang nembus ke Mataram lewat Lombok Barat. Bagian terbaiknya dalam perjalanan ini adalah jalan bypass itu belum sepenuhnya jadi :D. The adventure begin, bagian awal dari jalan berupa aspal rusak yang tergerus oleh banjir yang disebabkan hujan deras tadi, ada beberapa bagian jalan yang dialiri air sehingga seperti sungai….wooohooooooo..saya berteriak kegirangan…kondisi itu kurang lebih 10 kilo-an. Offroading jalan tanah, aspal rusak, water crossing sungguh sangat2 menyenangkan, sayang sunggguh sayang saking asiknya ber adventure kita lupa foto2an..halaghh…sepertinya bang Ardi bisa membaca pikiran saya ahahahahhaha…..Guruh yang dibelakang menggunakan ban 17” lebar kerepotan di jalur offroad dan walhasil ngepot2lah bannya dia. Hampir sepanjang jalan itu saya berdiri sampai kaki dan tangan pegal. Yup..there’s no doubt this is the best part on the whole trip ! selepas jalur offroad itu masuk ke jalan aspal tapi diselingi jalan tanah karena ruas jalan bypassnya blm jadi semua. nih foto2 nyahh

Gunung Rinjani di kejauhan

Hardcore biker : bang Ardi, Dio & Guruh

Guruh: Ini lho pass masuk proyek bandara *kicep2*

istirahat mimik dulu :P

Sesampainya di depan kantor bupati Lombok Barat kami berhenti istirahat, lengan dan kaki pegel semua, saya berterima kasih ke bang Ardi diajak lewat jalan tadi, sungguh perjalanan yang sangat berkesan. Di depan kantor bupati ada boulevard tempat anak2 muda nongkrong, waktu itu udah jam 17.30 WITA dan perjalanan dialanjutkan ke Mataram lalu kami mampir di SPBU, di sini bang Ardi pamit pulang, terima kasih banget udah ditemenin bang. Setelah isi bensin dan mengarah ke Senggigi motornya Dio ngadat lagi…..tiba2 ada brader dari Thunder Club nyamperin dan ikut bantuin…setelah diutak atik karbunya tuh motor mau idup lagi meski agak brebet jalannya. Dio mengantar kami balik ke hotel di Senggigi lalu dia pulang ke Mataram dan abis itu dia balik jemput kita lagi di Hotel untuk mengantar makan malam. Makan malam di Senggigi pasti mahal maka kita diajak Dio makan di

mau mamam...

Mataram tempat HTML Malang dan Bekasi makan waktu mereka ke Lombok. Saya pesan plecing ayam dengan tingkat pedes yang paling minim. Tetep pedes tapi enak dan sedapp plecing ayamnyah, minimal bisa bikin mata melek karena ngantuk. Ya, mata kami udah 5 watt dan untuk makan malam kita harus turing Senggigi-Mataram-Senggigi ahahahahahahaha setelah itu balik ke hotel dan zzz..zz..zzz…ada yang lucu neh..saking ngantuknya dan area hotel yang gelap kita sempet hampir salah masuk ke cottage orang…upss..untung keburu nyadar…

siyap siyap cek out dari hotel

Senggigi, 26 Mei 2010, 08.00 WITA. Tidur yang sangat nyenyak karena kecapekan dan hotel yang nyaman bikin telat bangun, mandi dan beres2 pas ketika si Dio nongol lagi ke hotel. Destination Today: Gili Trawangan….nyilem kita hari ini. Setelah packing kami bertiga sarapan lalu check out dari hotel dan bersiap di motor. Rute hari ini adalah ke Bangsal, tempat menyebrang ke Gili Trawangan tapi memutar melalui pasar Gunung Sari, Pusuk terus ke Pemenang. Pusuk ini daerah pegunungan tempat hutan monyet, yaa mirip2 Sangeh gitu lah dan jalurnya pasti asik karena pegunungan jadi jalannya berkelok2. Bener juga, jalanan yang sempit dan berkelok naik turun khas kountur pegungungan jadi tantangan sendiri…sampai Pusuk Pass (lupa istilahnya :P) kami berhenti sebentar untuk foto2 karena pemandangan dibawah bagus banget. Lanjut turun dari Pusuk giliran Guruh mengasah ban untuk cornering, saya mencoba foto dia sambil jalan susah banget. Sesampainya di pelabuhan Bangsal kami pun menitiipkan motor, rupanya Dio ini selebritis, udah dikenal sama yang punya penitipan motor disana jadi kami lega gak kepikiran. Setelah ganti kostum ke celana pendek + sandal jepit serta membawa baju ganti kamipun membeli tiket untuk menyeberang. Terakir saya kesini saya ke Gili Air dan sekarang ke Gili Trawangan. Di kapal penyebrangan butuh waktu 1 jam dan gelombang lumayan tinggi, cuaca cerah. Setiba di Gili Trawangan kami segera mencari spot yang asik buat istirahat dan menyewa perlengkapan snorkeling, untung Dio gak ikut nyebur dia pegang handycam untuk nge shoot cewek2 bule cakep dan topless…dasar anak muudaaa….saya dan Guruh sambil snorkling sambil poto2 dibawah air..wiiii guaya pisann..kapan lagi bergaya seperti penyelam wakakakakakaka…..Pulau Gili Trawangan berpenduduk kurang lebih 900 kepala keluarga dan semuanya bermata pencaharian dari kegiatan wisata mulai persewaan alat selam, café, peginapan, bike rental dll. Disini juga ada konservasi’penangkaran penyu, ini juga wajib dikunjungi. Sayang perairan ini sudah berkurang kejernihannya, tidak seperti dulu. berikut foto2nya…

Parkir di Pusuk

liat pemandangan dari Pusuk

Dio & Guruh in action

udah tau kan ? :P

look mom..I'm underwater

Guruh kek di Baywatch neh...ckckkck

Penangkaran Penyu

ujan deres di kapal

Malimbu

Setelah selesai snorkling kami bersih2 dan menuju ke tempat penangkaran penyu, setelah foto2 disana kami bergegas kembali ke Bangsal…ooo…cuaca di Lombok sudah gelap sekali, hujan deras disana rupanya. Ditengah laut perjalanan ke Bangsal hujan deras datang, tapi laut relative tenang saat hujan deras itu. Hujan barusan reda ketika kami tiba di Bangsal, berkemas dan ke kota Pemenang untuk mencari makan siang..luaperrr bangett rasanya…makan siang sekitar jam 14.00 WITA…hujan deras turun lagi sambil menunggu agak reda kami istirahat sebentar. Persiapan berangkat kami pun memakai rain gear karena cuaca tidak bersahabat. Kami akan menyeberang balik ke Bali tengah malam nanti dan kami akan menunggu di rumah Eri di Ampenan. Rute pulang adalah coastal ride, jalanan yang akan kami lalui sepanjang pesisir pantai dari Pemenang, Malimbu, Senggigi, Mataram lalu Ampenan. Hujan tidak begitu deras sepanjang jalan yang naik turun mengikuti garis pantai dengan kombinasi aspal mulus, rusak sampai jalanan berlumpur dengan genangan air, pemandangan pantai yang mengagumkan selama coastal ride kali ini terutama di Malimbu, Malimbu ini sepertinya tempat tertinggi di sepanjang jalur, disini dan Guruh baru ngeh kalo lampu2 motornya mati total. Sambil berhenti dan foto2 Guruh memeriksa kelistrikan motornya, ternyata ada yang konslet lagi….maklum motornya Guruh lampu led nya buanyak banget…dan setelah mengganti beberapa sekring maka lampu2 bisa menyala kembali lalu kita melanjutkan perjalanan menuju Ampenan.

Malimbu yang mendung

Troubledi Malimbu

Kurang lebih jam setengah 5 sore kita udah nyampe di rumah bro Eriasmono, lepas2 rain gear trus diangin2kan

Eriasmono sang papah metal

biar kering…disini Guruh memperbaiki lagi kelistrikan motornya dibantu Eri yang memang orang listrik hehehehhe….sambil istirahat kami numpang mandi. Nanti sebelum menyebrang kami berencana sowan ke rekan2

Trobel maning...

Lombok Tiger Club di tempat tongkrongan mereka di Udayana. Malamnya kami diajak makan malam sama Eri…makan sate apa itu lupa namanya, di rumah makannya sedang mati lampu jadilah kita berempat candle light dinner. Waktu itu di Lombok sedang krisis listrik jadi setiap malam diberlakukan pemadaman bergilir…Setelah makan malam kurang lebih jam 21.00 WITA dengan diantar Eri dan Dio berboncengan kami meluncur ke kawasan Udayana untuk bersilaturahmi dengan rekan2 dari LOTIC, disana sudah ada beberapa member LOTIC, bang Ardi dan bro Taufan sebagai ketua umumnya. Kami disambut dengan hangat dan diperlakukan layaknya saudara jauh, langsung saja kami terlibat dalam obrolan hangat dan ternyata sebagian teman2 saya juga kenal baik dengan bang Taufan ini…jadilah semacam reunian ahahahahhahah….setelah ngobrol panjang lebar mengenai dunia per biker an…halaghh…kami pun pamit, rekan2 LOTIC menawarkan diri untuk mengantar sampai Lembar tapi karena sudah ada Dio dan Eri kami menolak karena takut merepotkan. Dilepas dengan jabat erat dan lambaian tangan oleh rekan2 LOTIC kami pun bertolak ke Lembar, sampai jumpa lagi brader. Waktu menunjukkan 22.30 WITA, tiba di depan kantor Gubernur NTB kami foto2an sebentar. Ada cerita menarik selama kami di Lombok, apabila berhenti di lampu merah pasti ada aja biker2 dari club2 lokal yang menyapa “dari mana bro?” “apa kabar bro?” “bisa kami antar bro?” “mau kemana bro?” selalu saja kami ditanya oleh mereka, bahkan petugas SPBU aja bilang “dari mana mau kemana bro?” jaaaaahhhh…asik bener petugas SPBU nya…biker juga kali…sungguh kami rasakan kehangatan dan keramahan dari biker2 di Lombok selama kami disana. Brotherhood Without Limit bener2 terasa disini.

We'll be back

Dari depan kantor Gubernur NTB kita langsung ke Lembar, di Gerung kami mendahului rombongan biker juga yang cukup panjang. Sesampainya di Lembar setelah membeli tiket kami menunggu kapal di dermaga, penyebrangan dijadwalkan pukul 24.00 WITA. Sesaat kemudian ada serombongan biker datang, rupanya yang sempat kami salip tadi..ada club Mio, club RX King, club CB dan Honda C70. Rupaya mereka mengantarkan rekan2 dari Club Honda C70 yang akan ada jambore di Malang…saluuttt..meski beda jenis mereka mau mengantarkan rekan2 yang akan ikut jambore…kita langsung berbaur disana ikutan ngobrol dan becanda2 khas biker….ahhahahaha….ternyata kapalnya ngaret…saya nyari tempat senderan dan tertidur sebentar….Guruh membangunkan saya ketika kapal mulai merapat. Dio dan Eri berpamitan, jabat erat dan ucapan terima kasih kami ucapkan, Dio dengan semangat yang luar biasa terus menemani kami, Eri yang menampung kami sementara hahahahaha……setelah berjabat erat mereka pamit, sekalian salaman juga dan pamit dengan brader2 dari Mio, CB dan RX King club. Semoga ada rejeki dan umur panjang kami bisa kembali ke Lombok untuk bertemu lagi dengan brader2 sekalian, sungguh indah persaudaraan itu. Aminnn.

Bersambung…..

bengong nungguin kapal

Catatan Perjalanan Bali-Lombok 22-30 Mei 2010 Bag. 1

27 Sep

Guruh & Me @ Lombok Barat

Ide perjalanan ini bermula di suatu saat Ilham chat dengan saya, intinya di mengajak lagi bertualang seperti yang kami lakukan pada Oktober 2009 lalu ke Palembang. Tujuannya kemana Ham saya tanya, “Ngikut aje deh om, pokoknya jalan” sahut Ilham. “ Lombok pegimane Ham?” jawab saya. “brangkaaatttt” sahutnya. Destination Lombok, Bali juga dong…udah kebayang ini turing senang2 bukan turing adventure seperti ke Palembang karena emang tujuannya murni wisata dan jalan2. Tanggal udah ditetapkan dan saya pun juga teringat akan obrolan saya dengan Guruh waktu di Bandung yang intinya dia minta diajak kalo saya akan jalan lagi. Saya kontak Guruh dan dia langsung setuju. Kebetulan saya juga dititipin Bro Adet juragan 7Gear untuk road test tank bag terbaru type Explorer, sekalian aja deh.

Tank Bag 7Gear Explorer

Mendekati hari H ada beberapa musibah sebenarnya yang menimpa peserta seperti Guruh yang mengalami kecelakaan ditabrak dari belakang di Cihampelas, Bandung sampai motornya rusak lumayan parah dan dia pun terburu2 memperbaiki motornya sampai2 menggunakan spoke wheel, yang nantinya akan berguna di perjalanan. Belum lagi Ilham yang mengundurkan diri di H-3 karena kecelakaan juga, yang mengakibatkan pergelangan kaki kirinya terkilir. The show must go on dengan 2 orang rider sajah

H-2 Guruh sudah tiba di Semarang, dia mau liat2 di Semarang dulu. Sampai tiba hari sabtu siang 22 Mei jam 14.00 kami bersiap berangkat. Jalur yang dipilih adalah Pantura alias Pantai Utara Jawa dari Semarang-Tuban-Babat-Lamongan-Surabaya-Pasuruan-Probolinggo-Situbondo-Ketapang. Cuaca masih tidak menentu, di Semarang selalu turun hujan di sore hari, namun saat kita berangkat kearah timur cuaca terang benderang dan panas. Sampai Kudus perjalanan lancer jaya dan cuaca cerah, tetapi selepas Kudus hujan mulai turun dikombinasi dengan macet dan jalan yang jelek, kami pun turun ke badan jalan yang becek untuk menyiasati macet. Hujan mengguyur sepanjang jalan tetapi memasuki kota Pati cuaca cerah kembali, jalanan di Pati mulus2 dan lurus, selepas Pati memasuki Rembang kami beristirahat sebentar dan melepas rain gear, tak lama kemudian perjalanan kami lanjutkan.

Kota Lasem. Saya mulai excited memasuki kota ini, dan waktu kurang lebih jam 5 sore. Ya, waktu kami lumayan tersita karena macet di sebelum kota Pati tadi. Kenapa saya excited? Karena selepas Lasem jalan raya menyusuri pantai utara jateng dan jatim, angin laut dan pemandangan pantai serta kehidupan nelayan merupakan pemandangan yang sempurna di sore hari. Sayang karena jalanan yang sempit dan ramai kami nggak sempat berhenti untuk foto2, di depan saya memberikan kode ke Guruh utk melihat pemandangan di sebelah kiri jalan, dari spion terlihat memberikan kode jempol. Sayang sekali ruas jalan ini rusak karena sering dilalui kendaraan besar. Sering sekali kami masuk ke lobang jalan dan harus lama menunggu untuk mendahului karena jalan sangat padat dan kondisi ini berlangsung menjelang perbatasan Jateng-Jatim. Waktu udah jam setengah 7 malem kebetulan ada rumah makan di wilayah Bancar yang cukup besar dan kamipun memutuskan untuk makan malam disana.

Selesai makan kami pun ngobrol dengan bapak tukang parkir disana, dengan melihat peta beliau menunjukkan bahwa Tuban enggak jauh lagi, kira sejam perjalanan. Benar juga, gak lama kemudian nyampe lah kita di Tuban, Kota Tuban asik juga, punya boulevard panjang persis dipinggir pantai dan ramai sekali dijadikan tongkrongan anak muda sama klub motor disana, waktu itu pas malem minggu jadi ramai sekali, waktunya isi bensin dan ternyata enggak ada pertamax disana, pertamax baru tersedia di Gresik pak kata petugas. Yasut isi premium secukupnya utk nyampe ke Gresik dah, disini juga saya kontak dengan Radit HTML Surabaya dan kita akan ketemuan di SPBU Gresik tempat saya dulu ke Surabaya pertama kali awal 2009. Karena petir sudah menyambar2 kami pun mengenakan rain gear lagi dan tak lama hujan turun, malem minggu yg indah jd kehujanan dehh. Perjalanan dilanjut dibawah guyuran hujan, gak begitu deras memang tapi beberapa ruas jalan disana tanpa penerangan jadi cukup menyulitkan penglihatan, mana kami berdua kacamataan semua lagi jadi cuma berani jalan 50-60 km/j saja….sampai Lamogan ada insiden kecil, ketika melewati gundukan top case saya terlepas, untungnya terlempar kedepan jadi sempet kepegang, begitu minggir Guruh di belakang saya langsung memasang ke posisi semula. Bener2 story dah Lamongan, dulu awal 2009 rombongan masuk di lobang jalan segede gaban, untung semua selamat.

Sampai di Gresik masih hujan rintik2 kecil, langsung masuk ke SPBU yang dimaksud, istirahat sambil ngobrol, evaluasi kenapa itu topcase bisa lepas…ckckckc..kasus bener…Guruh sempet bilang, “om, di kasih jaring aja biar g lepas, nih gw bawa kok” “wogahh Gur, ntar dikira bok korea wakakakakaka, mending gw ngalah deh jalan pelan2” jawabku. Waktu menunjukkan jam 21.15 ketika Radit datang, kali ini dia dengan Faiz dan boncengernya. Yuk prepare, sebelum berangkat saya nanya ke Radit cuaca di Surabaya gimana dan dijawab masih hujan. Wet ride again, dan bener Gresik-Surabaya hujannya malah lebih deres lagi, tapi menuju bundaran Waru hujan mulai reda, kita dijadwalkan ketemu dengan rekan2 HTML Jatim di alun2 Sidoarjo, disana ternyata ada juga bro Enggal dari HTML Malang dan member lainnya yang maap saya nggak apal namanya satu persatu. Ngobrol bentar sambil peregangan dan lepas2 rain gear. Jam 11 malem kami pun diantar rombongan ke Pasuruan, baru lepas kota Sidoarjo neh…ehhh di sebuah gundukan ntu topcase lepas lagi !..ckckckckc….untung saya ditemani Guruh dan mas Sweeper jadi setelah itu bener2 g berani kenceng di jalan yang bergelombang. Sampai Pasuruan udah ditunggu oleh rekan2 HTML Pasuruan, wow..ketemu lagi sama Bro Iwok hahahahahha….disana kita makan mi instan di tengah malam buta..halakkh….sambil ditemani ngobrol rekan2, rupanya rekan2 di Pasuruan sudang mengkontak bro Qomar di Kraksaan tuk mengawal kita dan saya sudah diberikan nomer hpnya. Bro Qomar akan menunggu di batas masuk kota Kraksaan. Waktunya berangkat dan rekan2 yang mengantar kami dari Sidoarjo pamit pulang dan kami lanjut diantar oleh rekan2 Pasuruan sampai perbatasan Prolink alias Probolinggo. Rupanya kami ditemani secara estafet oleh rekan2 HTML Jatim, terima kasih banyak rekans, saya gak tau nanti gimana membalas kebaikan rekan2 di Jatim nantinya. Di jalan raya Prolink kami melewati petunjuk jalan ke Bromo…hmmm..kapan lagi ya bisa mampir batinku….memasuki Kraksaan kurang lebih jam 2 dini hari, gak ada tanda2 bro Qomar, kamipun maklum siapa juga yang betah melek jam segini hihihih….di sebuah SPBU kami berhenti untuk tidur sebentar, posisi di lepas kota Kraksaan dan sebelum PLTU Paiton pukul 02.30. zz…zzz..zzz..zzz..zzzz…zzz

di kapal ferry

Kami tertidur di pelataran SPBU dan terbangun karena rintik hujan dan ramainya siaran tv pertandigan world cup. Waktu menunjukkan 03.30…mayan bisa tidur sejam, setelah peregangan kami melanjutkan perjalanan, jalan mulai berkelok kelok, lumayan untuk mengusir kantuk karena dari semarang – kraksaan jalan hanya cenderung lurus2 saja. PLTU Paiton menjulang megah bermandikan cahaya lampu di pinggir kiri jalan, sepeti kota saja, karena subuh maka jalan belum begitu ramai, memasuki Besuki lalu Pasirputih, Panarukan dan menjelang jam 5 pagi sudah memasuki kota Situbondo. Jalanan sepi di pagi hari jadi perjalanan bisa cepat tanpa hambatan, kami tidak mengantuk karena jalanan meliuk liuk penuh tikungan. Sebelum masuk ke Taman Nasional Baluran kami melalui jalan dengan pemadangan pantai di sebelah kiri jalan dan pegunungan Ijen di kanan jalan, sungguh2 indah Disini kita jalan agak pelan karena bener2 ingin menikmati pemandangan, jalan sepi, berkelok, pagi2, benar2 sebuah suasana berkendara yang tiada duanya. Kurang lebih jam 6 pagi kami memasuki Taman Nasional Baluran, sarangnya banteng jawa neh. Perhitungan kami tepat sebenarnya sampai sini pagi jadi udah terang karena kalo masuk terlalu cepat waktu subuh lumayan serem, seruas jalan di tengah hutan rimba, tanpa penerangan jalan. Ada beberapa perbaikan jalan disana dan karena suasana sepi banyak monyet2 penghuni hutan bersliweran, kondisi jalan cukup mulus dan banyak tikungan jadi Guruh sempat melesat ke depan untuk rebah2an….ckckckck..udah gatel dia rupanya. Selepas Bajulmati kami memasuki kota kecil Wongsorejo untuk beristirahat dan isi bensin. Tak lama kemudian pelabuhan Ketapang di depan mata, setelah membayar tiket kami langsung masuk ke kapal karena tidak ada antrean. Parkir di kapal cukup mudah karena nggak ramai dan kamipun naik untuk istirahat. Saya mengabari Rio dan dia bilang suruh kasih kabar kalo sudah sampai di Tabanan dan akan dijemput di terminal Ubung Denpasar. Sepanjang perjalanan saya mengaktifkan Google Latitude di Gmaps sehingga rekan2 saya bisa memantau posisi kami sepanjang perjalanan. Bro Nugi dari Jaksel yang kebetulan di Bima segera mengontak saya begitu tau posisi saya karena sore dia sudah landing di Ngurah Rai dan ngajak ketemuan.

Sarapan di Gilimanuk

Pukul 09.00 WITA…Bali….Bali…Bali…*iklan stail* yup kita sudah menginjakkan tanah Bali, Pulau seribu Pura, Island of Gods dan Island of Dogs tentunya, karena banyak banget gukguk berkeliaran di Bali :D. Yuk cari sarapan kata Guruh, setelah pemeriksaan dokumen yang ketat di pos polisi pelabuhan Gilimanuk kami ke kota Gilimanuk untuk cari sarapan. Di kota ini banyak sekali penginapan dan rumah makan jawa timur karena banyak orang Jatim disini. Tepat jam 10 WITA kami bertolak menuju Denpasar, melewati Taman Nasional Bali Barat yang teduh, jalan berliku dan pemandangan pantai merupakan suasana yang gak ada duanya. Meski saya melewatkan masa kecil di Bali dan pada tahun 2004-2005 pernah kerja di Bali tapi ini merupakan pengalaman pertama kali saya ke Bali dengan R2, sungguh berbeda rasanya. Memasuki wilayah Negara (*baca: Negare) pemandangan indahpun semakin menjadi jadi, jalan berkelok yang mulusss dan pemandangan pantai berpasir putih di sebelah kanan, Subhanallah…berkali kali saya mengucapkan syukur bisa diberi kesempatan ini. Selepas Pura Rambut Siwi jalanan semakin padat, karakter jalan raya di Bali meski mulus tapi sempit jadi harus pinter2 menyalip kendaraan besar di depan kita. Cuaca panas sekali dan lalu lintas padat kamipun tiba di Tabanan jam 11 WITA, disana istirahat sebentar dan update posisi ke Rio. Perjalanan dilanjut lagi dan kurang lebih jam 12.30 WITA kami sampai di depan Terminal Ubung Denpasar, berhenti di pinggir jalan dan mengirim pesan text ke Rio kamipun istirahat, Guruh tertidur diatas motornya dan saya duduk2 di trotoar. Tak lama kemudian Rio datang, setelah ngobrol2 sebentar kami pun bertolak ke tempat Rio melalui bypass setelah sebelumnya mengisi Pertamax dulu…akirnya ketemu Pertamax juga sejak dari Gresik :P

Dari bypass gak tau lewat mana tau2 tembus jalan Imam Bonjol kearah Kuta, lalu masuk ke jalan Kubu Anyar,

terlelap di depan terminal Ubung

disana kita makan siang dulu di Warung Nikmat yang cukup bersih, murah, nikmat makanannya dan nikmat pemandangannya :P Cukup banyak bule yang low budget makan siang disini. Cukup sulit juga nyari parkirnya karena motornya gede2 dan fullbox, parkiran sempit dan saya sama Guruh dekil banget hahahahahhaha….yang penting makan jangan sampai telat maxbroww, bodo amat diliatin bule2 hihihi…. Setelah makan kita lanjut di kediaman Rio di Kubu Anyar, dekat dari situ. Jalan Kubu Anyar ini kalo diikutin muter bisa langsung tembus ke Discovery..woww asikkk…Kami unloading di tempat Rio, karena Rio masuk kerja kami pun ditinggal dan dipersilakan untuk bersih2 dan istirahat serta janjian untuk makan malem di Café tampat Rio kerja di Dicovery Mall nanti malam. Asik lho tempatnya Rio tetanggaan sama pramugari2, ada satellite tv, wah mantab deh xixixix….Saya diskusi sama Guruh kalo nanti malem kita langsung nyebrang ke Lombok masih capek nih, dan karena waktu pulang masih lama (29 Mei) kita putuskan bermalam semalam di Kuta sambil menikmati suasana kemudian baru esok tengah malem kita nyebrang ke Lombok. Setelah beres2 kami pun istirahat sampai sore. Bangun tidur badan udah segarr kembali, karena masih terang kamipun memutuskan untuk jalan2 ke Legian dan Pantai Kuta untuk melihat sunset, jalanan Legian yang padat udah menjadi ciri khas disana, tak lupa foto2an di Ground Zero lalu bernarsis ria di Pantai Kuta, turis salah kostum lebih tepat julukan buat kami kayaknya karena kami memakai perlengkapan berkendara yg lengkap dibanding bule2 yg rental motor disana ckckckckc….setelah sunset kami pulang dan bersiap2 berangkat makan malam ke Cafenya Rio di Discovery Mall, gampang sih, tinggal ngikutin jalan trus udah sampai sana. Pas nyalain motor Guruh baru sadar ada yang nggak beres di motornya, aki mulai drop dan ada gangguan di lampu2 blitznya. Sesampainya di New York Sports Bar n Diner kami makan malam, gak lama kemudian Raka dan Nugi gabung lalu Angga..waaahhh rame sekali ini……Kita2 nongkrong disana ampe mallnya tutup, udah rusuh, dibayarin, nongkrong ampe tutup pula wakkaakakkaka….sepulang dari sana langsung bobok sebelumnya ngebahas acara besok untuk ke bengkel benerin motornya Guruh.

A must photo spot, @ Ground Zero

Cloudy Sunset over Kuta

Munas Kopas Grup di Bali

Senin 24 Mei 2010, pukul 08.00 WITA di Kubu Anyar, pagi2 udah dibawain sarapan nasi kuning sama Rio…uuhhh so sweet wakakaka…setalah ngobrol2 sama ngeliatin pramugari kita siap2 ke bengkel, deket Pepito kalo g salah. Guruh mencoba memperbaiki kelistrikan motornya dan saya nyetel rem depan yang terlalu keras. Motor Guruh ditinggal karena perbaikannya lama dan kembali ke tempat Rio berboncengan hahahahhaha……siang hari kita Cuma nonton tv seperti discovery channel, AXN dll…agak sorean motor diambil, dan kita pergi ke Motomart, dealer box Givi yang ada di jalan Gatot Subroto, saya pengen mengganti mekanisme top case yang suka lepas itu. Sesampainya disana ternyata part yang dimaksud harus inden beberapa lama..ya sutra lah… setelah itu makan malam dan kita siap2 packing karena jam 22.00 WITA kita berangkat ke Pelabuhan Padangbai untuk nyebrang ke…Lombok ! Dengan diantar Rio kita berangkat ke Padangbai, melewaty bypass Ngurah Rai, Suwung dan Sanur, bypass Ida Bagus Mantra terus kearah Gianyar, kebetulan lalu lintas lumayan sepi sehingga Rio konstan memandu kami dengan kecepatan 90-100 km/j, again, sensasi yang beda kalo night riding. Dari bypass lalu kearah Gianyar yang sedang dibangun jalan baru sampai menjelang Padangbai. Melewati Goa Lawa kami sampai ke pertigaan lalu ke kanan kearah pelabuhan Padangbai, jalannya sekali lagi berkelok dan mulus, Guruh dan saya mengikuti Rio yang berkelok mengikuti jalan. Tepat jam 23.15 kami sampai di pelabuhan ferry Padangbai, Rio melepas kami disini dan kembali ke Kuta karena besoknya harus kerja. Hati2 brader, dan kami bersiap menyebrang selama 5 jam ke Lombok jam 24.00 WITA nanti.

Bersambung…..

Mencoba si Fireblade

13 Jun

Fireblade

Masih inget si Ilham kan ? riding buddy saya waktu ke Palembang kemaren ? nahh tu anak nongol lagi ke Semarang tapi kali ini dia nggak naik Tigernya tapi pake Honda CBR 1000 RR Fireblade, yes ! a superbike. Seumur umur baru liat superbike di depan saya, jujur dimensinya gak beda jauh sama Kawasaki Ninja 250, padahal kapasitasnya 1000cc inline, bener sungguh ramping ntu motor, sempet saya ledekin si Ilham “Ham, tiger modif lu rapi bener. hahhahaahahhaahha”

Ilham menawarkan saya untuk mencoba motornya, woww mantaff…saya excited banget tapi saya akan mencobanya di hari minggu pagi dimana lalu lintas nggak begitu padat. Saya gak mau sembarangan bawa ni motor karena saya bener2 awam dan belum pernah mengendarai superbike. Ulasan ini saya nggak akan bicara teknis spesifikasi si Fireblade, tetapi akan lebih ke first impression saya mengendarai superbike 1000cc

Hari minggu pagi tiba, jam 6.15 saya udah tiba di hotel tempat Ilham nginep, sampe kamar si empunya masih molor terpaksa dibangunkan paksa utk ngambil kunci dan STNK hihihihihihhi…..balik ke basement si Fireblade udah nunggu dengan manisnya. Pake helm dan glove, hati saya makin berdebar. This is it ! my first time on superbike ! bisa ato gak nih? kalo kagok kan tengsin di jalan. Saya naikin si Fireblade, sidestand dinaikkan lalu saya agak goyang ke kiri kanan untuk menakar bobotnya…hmmmm…nggak terlalu berat, mirip2 Tiger fullbox + tank bag yg fully load. Setelah membiasakan dengan ukuran dan bobot saya mempelajari tombol2 di setang kiri kanan, layoutnya g jauh beda dengan tiger, cuma di setang kiri ada tombol lampu hazard. Setelah memahami layout tombol saya memutar kontak dan lampu otomatis hidup. Panel intrumen hidup, RPM menggunakan analog dan data lainnya digital, ada temperatur mesin, tripmeter dll….dan ternyata gak ada meteran bensin sodara sodara…..ahahahahhahhaa…..petunjuk bensin ditandai lampu merah di kiri bawah yang akan menyala apabila bensin ada di posisi reserve. Kontak dihidupkan, tanda check engine berupa kode “FI” idup beberapa detik (motor ini menggunakan PGM-FI/injeksi) lalu tombol start ditekan. Mesin menggelegar, muffler Akrapovic mengaum sangar hehehehhehe…..setelah menunggu suhu mesin sampe 70 derajat maka saya pelan2 menjalankan motor keluar.

Cluster Instrumen

Akrapovic Carbon Muffler

USD Showa & Tokico caliper

Ohlins Shock

Nebeng ahh...hihihihi....

Rute pemanasan dan pengenalan handling motor saya pilih melalui Pandanaran-Tugu muda-Gajahmungkur-Sultan Agung-Taman Diponegoro-Gajah Mungkur-Tugu muda-Siliwangi-Kalibanteng-Pasadena (rumah). Sungguh, bener2 kagok pertama mengendarai superbike, bukan soal ukuran dan berat tetapi cara membelokkna setang, kemudi seakan akan tidak mau dibelokkan, sekilas saya teringat teori counter steering, stelah dicoba diterapkan benar, motor nurut berbelok. Jadi ketika akan berbelok/miring ke kiri maka tangan kiri justru mendorong handle ke depan dan motor otomatis belok/rebah. Bener2 teori counter steering berlaku disini secara harfiah. Beda sekali dengan motor kecil. Kecepatan saya jaga 70-80 km/j selama pengenalan handling di dalam kota. Menjelang jalan ke rumah di Pasadena ketemu macet. Ampun ampun dah pake superbike dengan kondisi stop and go, kopling keras, berat badan bertumpu ke pergelangan tangan dan panas mesin mencapai 104 derajat. Hawa panas membakar paha bawah, dan pantat. “mateng2 dah biji gua” batin saya. Sampai rumah peregangan lagi dan poto2.

Begini suaranya Acrapovic Carbon Hexagonal Mufflernya, karena saya nggak sempet ngrekam, ini saya carikan di youtube

Heheheh sangar kan? kebayang dong gimana suaranya pas lari 180km/j?

15 menit peregangan saya bersiap ke sesi test ride yang sesungguhnya dengan rute Kalibanteng-Arteri-Jalan raya Semarang-Demak. Memasuki arteri semarang dengan jalan bumpy, saya jalankan motor dengan kecepatan 80-100 km/j. Redaman goncangan teredam sempurna oleh suspensi Up Side Down Showa dan Ohlins di belakang, dua2nya fully adjustable dan pada posisi medium depan belakang. Ibarat naik mobil eropa redamannya dan sangat stabil. Memasuki jembatan arteri yang halus dan lurus saya mencoba membetot gas. Selongsong gas yang sangat ringan diputar diiringi akselerasi spontan, badan terbetot ke belakang seketika, G Force beraksi memainkan perannya. Beberapa detik kemudian sampai gigi tiga dengan kecapatan 150 km/j jalan sudah habis, jantung berdegup kencang dan mengatur nafas saya mengarahkan hidung motor ke arah Terboyo.

Nebeng ama bini sebelum ngegas

Di jalan raya Semarang-Demak yang lurus dan mulus terhampar di depan saya, lalu lintas belum terlalu ramai. Segera saya buka gas dan di suatu ruas jalan yang lurus dan sepi tercapai kecepatan 185 km/j. Sumpah, pemandangan di kiri kanan saya langsung kabur saking cepatnya, badan merunduk dan helm saya dekatkan ke windshield. Sungguh sensasi yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Adrenalin rush langsung menyeruak. Jalan mulai padat dan saya mencoba utk overtaking dengan zig zag, teori counter steering berlaku lagi. Dengan mendorong setang ke kiri dan kanan maka motor dengan mulusnya ngikutin ke arah berlawanan untuk menyalip bis, mobil, motor dengan mulusnya. Torsi terasa rata dan gak ada habisnya seiring dengan putaran selongsong gas yang ringan. Kecepatan rata2 di jalan itu berkisar 100-120 km/j konstan dengan temperatur mesin ideal 70-80 derajat celcius. Sesampainya di Demak saya arahkan ke Masjid Demak untuk beristirahat.

Peregangan lagi, posisi merunduk membuat pegal bahu dan pergelangan tangan. Posisi dengkul mengapit tengki utk mengendalikan badan motor. Setelah 30 menit istirahat, saya bersiap kembali ke Semarang. Dengan menempuh jalan yang sama dan lalu lintas yang lebih padat saya menjalankan motor dengan lebih santai. Berkali kali saya memainkan akselerasi yang mantab di kisaran gigi 2-3 kecepatan 100 km/j sungguh nyaman sekali ni motor. Karena jalan makin ramai kecepatan hanya tercapai 140 km/j. Sempat lari 120 km/j tiba2 saya dikagetkan penyebrang jalan yang mendadak saya melakukan hard braking, handle rem depan yang sangat lembut dan pakem mampus cuma saya tarik dengan dua jari telunjuk dan tengah, motor langsung deselerasi secara ekstrem tanpa ada gejala goyang sama sekali, anteb. Saya sempat terlalu keras menginjak rem belekang dan roda belakang sempet terkunci beberapa detik. Citt…cit…citt…beberapa detik roda belakang terkunci tetapi tidak ada gejala bodi belakang ngebuang sama sekali. Tetep lempeng.

Masuk kota Semarang yang padat, mulai suhu mesin naik ke 90-101 derajat celcius, hawa panas dari mesin karena hembusan electric fan dan panas underseat muffler kerasa banget. Paha bawah kerasa terbakar begitu juga pantat. Di traffic light jalan Pemuda setelah lampu hijau saya geber motor sampai pak polisinya bengong hihihihi..*maap pak, panas niy* Melewati jalan Thamrin dan belok ke Pandanaran lalu masuk ke basement hotel. Dengan jantung yang masih berdegup saya pencet tombol engine cut off dan mesin pun mati. Melepas helem dan lepas glove, menghela napas. Sesi test ride pun usai, dengan meninggalkan paha dan pantat yang kepanasan. Thanks banget Ham, bener2 sensasi riding yang beda buat saya.

*diketik dengan jari2 yang masih gemetar*

BMW R1200RT, a mesmerizing touring bike

21 Nov

Sebuah video promosi yang cantik dari BMW AG tentang motor BMW R1200RT, touring bike bermesin boxer khas BMW. Video ini menggambarkan pasangan yang sedang turing menjelajahi Norwegia.

Lha terus apa hubungannya ?

1. saya suka sekali dengan video dan motornya, menggambarkan esensi seseorang tentang bagaimana menikmati sebuah perjalanan dengan motor

2. kok mirip ya? dalam artian mirip saya dengan istri saya yang suka solo touring berdua dengan motor juga (tapi motornya beda :P), jadi video ini punya ikatan emosi yg sentimentil dengan saya…

Well Norway’s landscape is very beautiful, but I’m sure that Indonesia also have a magnificent landscape and scenery. And the best way to explore it is by using two wheels.

Enjoy..

Half Way Up; Tour de Andalas 14-21 October 2009 Part 2

18 Nov

Etape 2 : Bypass-Korpri-Jatirejo-Karanganyar-Metro-Lintas Timur-Menggala-Tulang Bawang-Unit 2-Pematang Panggang-Oki-Tugu Mulyo-Kayu Agung-Palembang (Rest Over Night)

Pagi pagi hari Jumat tgl 16 October kami sudah terbangun, kamar Bro Agus yang nyaman dan ber AC membuat tidur kami pulas banget. Terdengar bro Agus sudah mengudara via rakom dan kami pun sibuk menjemur riding gear yang basah karena semalem. Oiya semalem pas kami merapat ke Lampung saya sempat melontarkan permintaan minta dicarikan tukang pijet. Ini tukang pijet beneran karena telapak tangan, lengan sampai bahu kanan saya masih terasa nyeri gara2 throtle handle itu. Eka yang sempet tune in di frekuensi HTML Lampung pas perjalanan pulang dari RM ke rumah sempat mendengar percakapan sebagai berikut “minta tolong ada yang bisa nyariin pijet ples ples gak niy ? ini BOSnya Semarang pengen pijet” njiiiirrrrrrrrrrrrrrr…bawhahahahahahah….saya setelah diceritain Eka ketawa gak abis2. Entah Eka nambah2in soal itu ato enggak ini merupakan hal lucu sekali bhwahahahahahhaah sampe akirnya semalem gak jadi dicarikan tukang pijet saya membeli salonpas koyo. Sebelum tidur saya pasang di telapak tangan dan bahu, disinilah saya mendapat julukan aki-aki oleh Eka xixixixi..padalah dianya juga pake nohh..ppfftt….
Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.